Camella Markenzie
kisah yang bercerita murid baru yang mengubah segalanya
Nama gue Camella Markenzie, gue tinggal di suatu desa Cinaya. Hari ini gue pergi merantau untuk melanjuti jenjang pendidikan SMA. Di sekolah ternama, yaitu Garuda. Gue diterima disana melalui jalur beasiswa dari sekolah karena kepintaran gue dan juga ekonomi gue bisa di bilang kurang mampu. Gue mulai berkemas barang-barang yang akan gue bawa nanti, setelah selesai dan memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal, gue pun segera berpamitan dengan keluarga serta warga di Cinaya.
“Hati-hati ya nak, jika sudah sampai jangan lupa kabarin kami dan belajar yang baik ya, nak” kata ibu camella, sambil memeluk erat anaknya. Mungkin pelukan ini, pelukan yang akan sangat gue rindukan. Setelah selesai berpelukan dengan ibu, gue pun pergi dengan perasaan yang campur aduk.
Setelah perjalanan dari desa Cinaya, gue telah sampai ke kota tujuan yaitu Jakarta selatan. Gue langsung mengabari keluarga gue yang berada di desa. sampai di Jakarta, gue langsung memesan taxi online dengan tujuan ke sekolah gue sekarang. Di Jakarta gue tinggal di asrama sekolah, karena orang tua gue akan merasa aman jika gue tinggal di asrama sekolah. Jadi gue menuruti apa yang orang tua gue katakan.
Di asrama sekolah, gue tinggal bersama 3 orang perempuan. Mereka menyambut kedatangan gue di asrama dengan baik dan ramah.
“Hai, lo murid baru ya? Salam kenal ya gue Naura”
“Gue Kylie”
“Gue Alana”
Kata mereka yang memperkenalkan dirinnya dengan ramah, gue sangat bersyukur mempunyai kawan sekamar yang baik. Dengan senang hati gue membalas perkataan mereka dengan memperkenalkan diri gue.
“Iya gue murid baru, gue Camella Markenzie salam kenal ya semuanya” balas gue, dengan senyuman ramah.
Sesi perkenalan diri antar kawan asrama pun selesai, gue segera meletakkan barang-barang gue dan lain-lain. Setalah itu gue langsung mengistirahatkan diri gue ke kasur asrama yang sangat nyaman, karena besok pagi gue mulai masuk sekolah dengan kehidupan yang baru.
Keesokan harinya, pagi telah tiba dan matahari mulai menyinari dunia. Gue bangun dengan semangat, gue melihat kawan sekamar gue sudah bangun dan sedang bersiap-siap.
“Pagi semuanya” sapa gue, dan langsung dibalas oleh kawan sekamar gue dengan ramah. Gue pun bersiap-siap mandi, memakai baju, dan lain-lain. Setelah sudah rapi dan siap untuk ke kelas, gue dan kawan sekamar gue langsung pergi menuju kelas masing masing. Tetapi gue belum mengetahui kelas gue dimana, karena gue baru masuk sekolah ini kemaren siang. Jadi gue langsung bergegas ruang kepala sekolah untuk menanyakan ruangan kelas gue.
_
Tok tok
Gue mengetuk pintu terlebih dahulu, sebelum masuk ke ruang kepala sekolah.
“Permisi bu”
Ibu kepala sekolah tersebut, langsung tersenyum ramah saat melihat gue.
“Kamu Camella, murid baru itu ya?” tanya ibu kepala sekolah tersebut.
“Iya bu, saya kesini dengan tujuan ingin menanyakan kelas saya dimana” jawab gue, dengan sopan dan ramah kepada ibu kepala sekolah.
“Oh, iya mari ikuti saya” balas ibu kepala sekolah, dengan ramah dan segera bergegas keluar dari ruangan begitupun gue yang mengikuti ibu kepala sekolah.
Kepala sekolah mengantarkan gue ke depan kelas, ternyata kelas gue terdapat di lantai 3, jurusan Ilmu Bahasa dan Budaya. Saat gue melihat sekeliling kelas, rupanya Alana adalah kawan sekamar dan kawan sejurusan gue.
“Sebelum ibu memulai pelajaran, kita kedatangan murid baru nih, silakan perkenalan dulu”
“Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya Camella Markenzie, biasa di panggil ella. saya seumuran dengan kalian” .
“Baik, terima kasih ella. Perkenalkan juga ibu wali kelas mu, nama ibu Melinda salam kenal ya” balas ibu Melinda dengan ramah.
“Yaudah, silakan duduk disamping Ian ya” kata ibu Melinda, sambil menunjuk dimana tempat duduknya. Gue langsung bergegas ke tempat duduk yang ibu Melinda tunjuk tadi.
Sudah seminggu lebih gue bersekolah disini, gue mulai mengetahui tentang sekolah Garuda. Disini sangat nyaman karena semua siswa disini sangat ramah. Gue menyukainya. Hari ini ada pengumuman sekolah bahwa pada hari minggu diadakan acara Memungut Sampah Bersama, semua siswa wajib mengikuti acara tersebut. Gue sangat senang mendengar akan diadakan acara tersebut. Tapi entah kenapa, semuanya pada mengeluh dan meminta acara tersebut dihilangkan. Karena gue sangat bingung tentang apa yang terjadi, saat pulang sekolah, gue bertanya kepada kawan sekamar gue tentang pengumuman acara Memungut Sampah Bersama.
“Kenapa banyak yang tidak suka dengan acara Memungut Sampah Bersama?” tanya aku, dengan rasa penasaran ku. Melihat gue bertanya seperti itu, kawan sekamar gue melihatku kaget.
“Serius lo masi nanya? Karena itu acara membosankan ella, mungut sampah di hari minggu siapa yang mau sih?” balas Kylie
“Emang lo mau melakukan itu ell?” sambung Kylie
“Iya, gue mau melakukan itu. Karena menurut gue itu hal yang paling menyenangkan dan bermanfaat menurut gue” Kylie mendengar jawaban dari gue, hanya bisa mengangguk paham. Karena menurut Kylie kesukaan setiap orang berbeda-beda, hanya saja Kylie terkejut mendengar pernyataan dari gue.
Hari minggu pun tiba, pada jam 8 pagi acara Memungut Sampah Bersama dimulai. Murid-murid ramai berkumpul di Hall sekolah Garuda, mereka semua hanya berduduk santai dan tidak memungut sampah. Hanya ada beberapa murid yang memungut sampah, termaksud diri gue.
Melihat itu, gue pun berusaha memberanikan diri untuk mengajak mereka memungut sampah dan tidak bermalas-malas an.
“Ayo semuannyaa, mungut sampah agar lingkungan kita menjadi sehat dan bersih!!” teriak gue dengan lantang, seketika gue menjadi pusat perhatian murid-murid disana. Ternyata perbuatan gue, juga tidak membuat mereka bergerak. Gue hanya bisa menghela napas panjang dan lanjut memungut sampah di area sekolah.
Karena gue sudah sangat kesal dengan murid-murid yang tidak bekerja, dan hanya duduk santai. Gue pun mulai mulai beraksi untuk menyadarkan murid-murid.
“Ayolah, apa kalian mau lingkungan sekolah kita menjadi kotor? Karena kemalasan kalian untuk membuang sampah? Kalo kalian kaya gini terus, kapan mau berubah? Kalian apa gak jenuh melihat lingkungan yang banyak sampah dan kotor? Kapan Indonesia mau maju jika kalian saja malas-malas an seperti ini!!!” lantang gue, melihat beberapa murid masih saja bermalas-malas an. Dan sebagian murid mulai memungut sampah.
Tiba-tiba, ada suara laki-laki yang dengan lantang nya ikut berteriak mengikuti perlakuan gue tadi, untuk menyadarkan murid-murid.
“Woi, yang ga mungut sampah dan masih bersantai-santai ! Padahal udah dibilangin tapi masih saja tidak sadar-sadar. Gapunya kaki dan tangan kah kalian? Sampai untuk buang dan mungut sampah saja kalian malas” lantang laki-laki tersebut, mendengar pernyataan dari laki-laki tersebut. Melihat itu beberapa murid juga ikut berteriak dengan lantang untuk menyadarkan semua murid.
“Ayo mungut sampah, sudah 2 orang yang berusaha menyadarkan kita untuk memungut sampah. Apa ga malu kalian? Sudah besar dan sudah diperingati tapi tidak juga sadar-sadar”
“Kalo kalian malas memungut sampah, setidaknya jangan membuang sampah sembarangan. Berani berbuat berani bertanggung jawab”
Karena perkataan tersebut, membuat murid-murid mulai memungut sampah. Gue yang melihat hal tersebut, sangat senang karena beberapa murid disini ikut menyadarkan mereka semua. Gue lanjut memungut sampah dan membersihkan lingkungan sekolah dengan senang.
Saat gue sedang asik memungut sampah, tiba-tiba ada seseorang yang memukul pelan pundak gue. Tentu saja gue lumayan kaget karena sentuhan tersebut, gue langsung menghadap ke belakang dan menemukan seorang laki-laki tinggi, gue kenal dengan laki-laki tersebut. Dia adalah orang yang membantu gue untuk menyadarkan murid-murid disini, laki-laki tersebut bernama Ian Xavier.
“Hey, lo murid baru kan?” tanya Ian
“Iya, gue murid baru” balas gue
“Nama lo siapa kalo boleh tau?”tanya ian, dengan nada penasarannya.
“Camella Markenzie, kalo lo?”
“Nama yang bagus, gue Ian Xavier. By the way lo tadi keren banget sih, lo murid baru tetapi bisa mengubah semuanya” puji ian, sambil tertawa menampakkan giginya. Gue mengakui bahwa ian cukup manis untuk dilihat.
”Hahah makasih, lo tadi juga keren kok hahaha”
Waktu terus berjalan dengan cepat, murid-murid di sekolah ini mulai membuang sampah pada tempatnya dan memungut sampah jika ada sampah di depannya. Sepertinya murid-murid disini mulai sadar, sejak acara Memungut Sampah Bersama tersebut. Sejak saat itu juga gue dengan Ian jadi lebih sering bertemu dan berinteraksi satu sama lain, bisa dibilang gue dan Ian jadi teman dekat.
Jujur gue mulai punya perasaan dengan Ian, karena perilaku Ian terhadap gue, membuat gue menaruh perasaan lebih kepada Ian. Namun, gue tidak tahu perasaan Ian terhadap gue. Lagian gue juga tidak berniat untuk mengetahuinya, cukup Tuhan dan Ian saja yang tahu bagaimana perasaan Ian terhadap gue.
END

Komentar
Posting Komentar