Thank you dear roommate
sebuah kisah persahabatan yang cinta lingkungan
Perkenalkan
nama ku Iris Nazareth, umurku
20 tahun dan aku sedang melanjutkan pendidikan ku di
Universitas ternama di Ibu
kota.
Di universitas itu, aku di beri julukan yaitu
anak
ramah lingkungan oleh teman-teman ku.
Alasannya
karena mereka sering kali melihatku membeli barang di luar menggunakan tas
belanja yang ku bawa, mereka juga sering melihat ku membawa kotak makan. Ketika
membeli makanan di luar. Bukan itu saja, mereka juga sering melihat ku memilah
sampah pada tempatnya bahkan mendaur ulang barang-barang tersebut, salah
satunya paper bag yang ku jadikan sebagai tempat penyimpanan, kotak susu
ku jadikan sebagai tempat pensil dan masih banyak lagi.
Mereka sering
bertanya kepada ku kenapa aku harus repot-repot melakukan hal itu dan aku hanya
menjawab mereka seadanya. Kadang-kadang pertanyaan mereka membuat ku mengingat
kepada diri ku yang dulu.
Karena dulu
aku sama seperti mereka, aku selalu bingung dan tidak mengerti ketika melihat
ibu ku selalu menggunakan tas belanja
waktu membeli barang dan menggunakan kotak makan Ketika kita membeli makanan di
luar.
Tetapi ada
orang yang berhasil membuatku mengerti. Orang itu adalah Azalea Carolline,
murid pindahan dari Yogyakarta ke SMA ku yang terletak di Kota Bandung dan
ternyata dia juga merupakan roommate baru ku di asrama.
Awal pertemuan
kami bisa di bilang tidak baik, waktu itu aku sedang piket dan tugas ku adalah
memilah sampah pada tempatnya. Aku baru saja mau memasukkan botol plastik ke
tempat sampah, ada seorang perempuan sedang berjalan ke arah ku.
“Heh, itu bukan sampah organik!” teriak Azalea
Aku menoleh ke kanan dan kiri mencari kepada siapa dia berbicara. Melihat tidak ada
murid yang berada di koridor, dengan ragu aku menunjuk diri ku sendiri.
“Aku bicara
sama kamu” jelas Azalea
Azalea
mengambill paksa botol yang ku pegang lalu membuangnya di tempat sampah khusus anorganik.
“Kalau kamu gak
niat ngapain kerjain? Kamu hanya menambah kerepotan orang lain” tanya Azalea
“Apa sih kamu,
gak jelas banget, lagian ini bukan urusan mu juga” balas ku
“Kalau kamu
gak mau kerjain, sini aku yang kerjain” kata Azalea
“Yaudah kamu
aja yang ngerjain, lagian siapa yang mau ngerjain hal itu” balas ku lalu pergi
dari sana
Itu merupakan
ingatan yang menjengkelkan ketika aku bertemu dengan Azalea di belakang sekolah.
Pertemuan kedua kami di kamar asrama ku, dia datang sebagai pengganti roommate
lama ku yang pindah sekolah.
“Bu kok harus
dia sih yang jadi roommate saya?” protes ku saat mengetahui Azalea
menjadi roommate baru ku
“Karena hanya kamar kamu yang kosong” jelas Bu Dewi
pengurus asrama sekolah ku
“Tapi bu…...” kata ku
“Ibu gak terima protes dari kamu, Azalea
dia
teman sekamar mu Iris Nazareth, ibu harap kalian bisa menjadi teman yang baik” potong Bu Dewi
“Iya bu” balas Azalea
“Kalau gitu ibu pergi dulu” kata Bu Dewi
Bu Dewi berjalan keluar dari kamar meninggalkan ku dan
Azalea di kamar berduaan. Aku menatap Azalea dengan tatapan tidak suka
sedangkan Azalea hanya mengabaikannya saja.
“Kasur ku yang mana?” tanya Azalea
“Itu” jawab ku ketus sambil menunjuk kasur yang kosong
“Makasih” balas Azalea
Azalea berjalan ke kasur sambil menyandang tas. Setelah
dia meletakkan tasnya di kasur, dia mengeluarkan isi tas dan merapikan
barang-barangnya tersebut di laci yang
terletak di bawah kasurnya.
Waktu dia menyimpan barang-barangnya, pandangan berhenti
di botol plastik kosong yang terletak di lantai. Dengan rasa kesal, Azalea
mengambil botol plastik itu dan menatap tajamku yang sedang duduk di kursi
sambil memainkan hpnya.
“Ini punya mu?” tanya Azalea
“Iya, aku lupa buang” jawab ku santai
“Lain kali tolong buang di tempatnya” kata Azalea
“Hm” balas ku cuek
Itu pertemuan kedua kita yang masih terlintas di pikiran
ku sampai sekarang. Selama kita tinggal berdua di asrama, kita tidak pernah
berbicara kalau berbicara
hanya hal yang penting saja sampai satu peristiwa yang paling ku ingat.
Waktu itu langit mulai gelap dan aku baru pulang ke
asrama karena habis kerja kelompok. Ketika aku melewati koridor asrama, aku
melihat Azalea yang sedang duduk di depan tong sampah sambil memilah sampah di
depannya.
“Woi kamu lagi
ngapain?” tanya ku penasaran
“Kamu gak bisa lihat?” ketus Azalea
“Memang apa gunanya kamu capek-capek milah sampah?
Ujung-ujungnya di gabungin lagi juga” tanya ku
“Dari
pada
kamu cerocos gak penting dan gak mau bantu, mending pergi” ketus Azalea
“Heh di tanya baik-baik juga” kesel ku
Karena tidak di pedulikan lagi sama Azalea, aku memutuskan
untuk pergi ke kamarku. Baru
saja beberapa langkah ku berjalan,
“Mudah untuk di daur ulang, meningkatkan kebersihan
lingkungan, menjaga kesehatan dan mengurangi tumpukan sampah di laut, itu guna
dari perbuatan yang kamu bilang capek” kata Azalea membuat aku berhenti lalu
menoleh ke arahnya
“Lagian hanya kamu sendiri yang lakuin, yang lain gak ada
yang ngerjain” balas ku
“Kamu gak pernah dengar istilah jika satu orang
melakukannya, maka orang lain akan ikut membantunya?” tanya Azalea
“Gak pernah dengar” jawab ku
“Sekarang memang hanya aku yang lakuin tapi selanjutnya
belum tentu, siapa tau ada orang lain yang membantu” kata Azalea lalu Kembali melanjutkan kegiatannya
Semenjak hari itu aku mulai dekat dengan Azalea, banyak
murid-murid yang kebingungan dengan apa yang terjadi. Iris Nazareth murid yang di
kenal paling malas jika sudah berhubungan dengan kegiatan ramah lingkungan
berteman dekat dengan Azalea Carolline murid pindahan yang di anggap aneh oleh
teman sekelasnya tetapi semua perkataan orang-orang ku abaikan.
Semenjak berteman
dengan Azalea, aku mengetahui banyak hal baru terutama hal-hal kecil yang belum
pernah ku ketahui sebelumnya, mulai dari kotak susu bisa di daur ulang menjadi
tempat pensil, celengan bahkan bisa di jadikan dompet. Dia juga sering mengajak aku menggunakan kotak makan sendiri ketika membeli makanan, dan juga membawa tas sendiri ketika pergi membeli barang.
Dia berhasil mengubah diriku yang awalnya tidak mengerti apa
gunanya ibu ku yang selalu
melakukan hal yang menurutku merepotkan dan sekarang aku sudah mengerti bagaimana cara menjadi anak ramah di lingkungan.
…
Carol Café
Iris sedang duduk di kursi café di paling ujung menunggu kedatangan
seseorang. Tidak lama seorang perempuan berpakaian santai berjalan ke arahnya
dan duduk di kursi depan Iris yang kosong.
“Sorry aku lama, tadi harus kumpul tugas dulu” kata
Azalea
“Gak papa, aku baru sampai” balas Iris tersenyum
“Udah pesan belum?” tanya Azalea
“Udah Ice Caramel Latte, Ice Cappucino, Chocolate cake
dan Red velvet cake” jawab Iris
“Wih masih hafal ternyata, kirain udah lupa” kata Azalea
“Itu sebuah pujian atau sebuah sindiran?” tanya Iris
“Dua duanya” jawab Azalea
Mereka berdua mengobrol sambil menunggu pesanan mereka
datang. Tidak lama kemudian, pelayan café menghampiri mereka dan meletakkan
pesanan tersebut mereka di atas meja.
“Selamat menikmati” kata pelayan cafe
“Terima kasih” balas mereka berdua secara bersamaan
Pelayan café hanya tersenyum lalu pergi melanjutkan
pekerjaan nya. Setelah pelayan café pergi, Azalea mengulurkan tangan nya
berniat mengambil sedotan pribadi di tasnya dan dia baru menyadari kalau dia
tidak membawa sedotannya.
“Aku pergi minta sedotan dulu” kata Azalea
“Gak perlu, aku ada” jawab Iris memberikan sedotan
stainless ke Azalea
“Wih udah berubah ya” kata Azalea menerima sedotan itu
“Iya dong, kan Iris anak baik yang sayang sama
lingkungan” ujar Iris dengan pede membuat Azalea memutar bola matanya
“Siapa yang dulu bilang itu hal yang bikin capek” sindir
Azalea
“Itu kan dulu sekarang kan aku udah berubah” protes Iris
“Harusnya berterima kasih sama aku dong, kan aku yang membuat kamu berubah” kata Azalea
“Iya, iya makasih”
balas Iris malas
“Tapi kalau di ingat-ingat waktu itu lucu juga ya” kata
Azalea
“Iya, jadi kangen waktu itu” balas Iris tersenyum
END

Komentar
Posting Komentar